Dia adalah lelaki pertamaku, lelaki pertama yang kulihat sejak mata mulai dapat melihat dunia. Tak pernah sepatah pun kata cinta keluar dari bibir coklatnya. Mulutnya selalu rapat, namun dari kasarnya jemari lelaki itu, aku dapat rasakan halusnya budi yang ia teladankan. Dari diamnya lelaki itu aku mengerti arti kesungguhan cinta dan kasih sayang. Puluhan tahun hidup bersamanya membuatku paham arti sebuah sebuah keteguhan dalam perjalanan.
Dia bukan lelaki yang pandai mengajarkan tauhid kepada kami, anak-anaknya. Namun dalam didikan sederhananya ia contohkan arti penghambaan yang nyata. Lelaki sederhana itu bukanlah pempimpin yang disegani dan ditakuti, namun dalam dekapan cintanya kami rasakan perlindungan yang nyaman. Dia bukanlah benderang lampu megah di rumah sederhana kami, tapi dia adalah pelita yang senantiasa menyinari hati kami untuk teguh di jalan kebenaran.
Dia mungkin tak seperti ayah-ayah super hero di luaran sana, namun dia adalah ayah juara satu sedunia. Iya, dia adalah ayah tercinta, kami memanggilnya Bapak! Cintanya tak pernah terucap, namun hangat kasihnya nyata kami rasakan. Kehadirannya seantiasa membawa oase kasih berbeda, meski kini ada lelaki lain yang telah menghuni ruang hatiku.
Kedua cinta itu tetap tumbuh dalam dua rasa yang berbeda namun saling bertautan. Cinta lelaki pertamaku, dan cinta lelaki istimewaku.
Selamat hari Ayah, Bapak kami tercinta, juga engkau ayah dari anak-anaku!
Ayahku pahlawanku!
Di bawah guyuran Rahmat-Mu, Pemalang 11 Nopember 2025
Siti Untari Leksono

